Ini mata pelajaran penting, Fisika. Kutinggalkan sejenak angka-angka serta rumus yang menyertai. Ups, bukan sejenak, melainkan aku di sini tak mengikuti dan bahkan tak berusaha mengejar kereta yang ditumpangi teman-teman kelasku, sama sekali.
Berapa debit air yang dialirkan melalui pipa dengan diameter 7 sentimeter dan blablabla....?
Maaf Bapak, saya lebih memilih berkutat dengan serangkaian huruf di hadapan saya dan merangkainya dalam ratusan bahkan ribuan kata. Terima kasih telah bertanya.
Untung saja aku tak menjawab dengan "Bapak, kepo banget sih?" atau mungkin.... "Terus gue harus bilang wow, gitu?"
Sudah tidak memperhatikan, tidak menjamah soal yang beliau beri, malah mau menantang. Beginikah pelajar Indonesia?
Tidak! Jawabku tegas. Tidak semua pelajar seperti diriku. Lihatlah sekitarku! Maaf, aku lupa, kalian tidak bisa melihatnya, hanya aku dan teman kelasku yang tahu. Mereka, enambelas anak lain yang dapat jelas kulihat, berpikir dalam diam, seperti aku. Bedanya, mereka berpikir bagaimana air dapat mengalir sebanyak 25 liter dalam waktu satu menit ....dan aku? aku berpikir bagaimana mengutarakan perasaan di tulisanku kali ini. Beda tipis.
Jangan dikira apa yang sedang 'kuperjuangkan' itu mudah; semudah mencontek saat ditinggal guru di sela-sela ulangan harian fisika. Maaf, guru dan ulangan harianku, maksudnya.
Perasaan? Apa itu perasaan? Makanan khas Jawa Timur? Ha-ha. Garing.
Masih di sudut kelas, melihat ke seluruh penjuru ruang ini. Sempat terpending menulis karena seseorang datang dan....entahlah. Lanjut. Sekali lagi, perasaan? Perasaan apa ini? Rindu yang tak tahu kepada siapa ia meraung, rindu yang tak diketahui juga apa yang sebenarnya dirindukan. Ah, belibet.
Sekitar lima menit menuju kemerdekaan sementara. Tetapi sang pengajar telah beranjak dari singgasana isitimewanya. Berarti sudah sepenuhnya merdeka 'sementara'.
Shit! Tetiba lagu yang terputar meneriakkan syair: "I was born to tell you 'I love you'".
Sial, 'you' itu siapa? -___-
Lelah menerka. Lelah mencari. Bahkan, lelah menanti. Hanya untuk menanti...
"Memang menanti semudah itu apa?" Kata sese...hmm sesuatu. Karena bukan seseorang yang mengatakannya; melainkan sesuatu. Entah, mungkin benar, aku hanya lelah.
Aku manusia dengan kesabaran yang limit. Limit ....x mendekati nol, jika kau tahu maksudku. Lupakan, lupakan!
Sekelompok orang di seberang sana membicarakan durian. Mengupas durian? Bagaimana caranya? Yakin kau akan mengupasnya? Dengan apa? Kau tak takut tanganmu terluka terkena duri durian hanya karena akan ....mengupasnya?
Jujur aku takut, takut terluka. Terluka segalanya. Kulit, organ dalam, apapun; apalagi hati dan perasaan.
Iqamah berkumandang, dan aku sama sekali belum tergerak untuk pergi ke masjid. Menunda. Astaghfirullah...
Sudahlah, cukup. Rasanya semakin tak keruan. Semakin sesak dalam diamku ini.
Tuhan... Aku butuh seseorang. Seorang teman... Kokoronotomo.
“It's beauty that captures your attention; personality which captures your heart.”
Thursday, August 30, 2012
Tuesday, August 28, 2012
Hujan dan Kamu
Aku suka melodi hujan, tapi aku tak suka petir
Aku harap dia bisu
Petir itu sombong, mentang-mentang paling bercahaya, bisa marah-marah sesukanya
Awan jadi takut, dia gemetaran, keringat dinginnya turun
Kasihan awan, dimarah-marahin petir
Sabar ya, kamu berkeringat, tangismu pun semakin kencang
Petir, bumi sedang tak ingin berdisko malam ini, bisa hentikan kilat-kilatmu?
Kamu kalau marah seperti petir.
Aku diam dalam getir.
Aku diam dalam getir.
Sunday, August 26, 2012
Tulis, Tulis, Tulis
Ya, kepalaku sakit lagi. Serius. Sakit sekali.
Nggak bisa seenaknya menyalahkan ini-itu, menyalahkan temanmu yang work-less, apalagi menyalahkan acaranya. Sudah teragenda rapih, sekarang isi kepalaku yang berantakan. Acaranya bisa dibilang sukses kok, kata siapa? Kata kami, kami yang 'mengurus' acaranya. Jelaslah...
Terus, kenapa isi kepalaku berantakan? Suka-suka aku laaaah..
Tapi aneh, bukan 'suka-suka aku', kalau aku bisa mengaturnya pasti sudah kubersihkan, kutata, dan kukecup (?)
Memikirkan ini, memikirkan itu. Tiga ulangan menanti, Biologi, Kimia, dan Matematika. Menyesal, karena selama libur (kau tahu, libur bagi anak SMA itu hoax, bukan?) aku tidak menggunakan waktuku untuk....belajar?
Oh iya, barusan satu pesan singkat masuk, intermezzo.
Lupakan line di atas. Random. Yang ini pun.
Sebenarnya arah pembicaraannya mau dibawa ke mana, sih? Aku bingung, dan lelah, dan penat, dan...terserahlah. Kepalaku yang sakit ini enggan berpikir jernih, persis seperti saat ulangan melanda. Haha, melanda, konyol.
Kenapa sakit terus? Karena sesuatu terjadi padaku, dahulu kala, yang membuatku sulit beraktivitas normally, seperti sedia kala.
Balik, yuk. The point is....nggak ada. Karena keinginanku untuk menulis kembali meluap ke permukaan.
Sebenarnya aku ingin cerita mengenai kepalaku and stuffs, tapi nampaknya dan aku yakin itu kurang etis. Nggak pengen aja terlihat miserable, dan menurutku, itu sesuatu yang sangat pribadi. Hanya membutuhkan satu teman untuk membagikannya. Lihat saja.
Lewat pukul 3 dinihari. Kenapa kau tak pergi beribadah, menemui Tuhanmu agar kau bisa lebih tenang? Lebih pantas kutanyakan hal yang sama pada diriku. Tapi enyah, kepalaku tak ingin bangkit dari kubur, bukan bukan, tapi bangkit dari sandaranku yang nyaman ini.
That's all, babe, segitu dulu deh yang aku share.
Doakan aku, agar aku bisa lekas sembuh meski aku tahu nearly impossible buat bisa pulih dan balik kaya dulu. Oh iya, semoga juga aku, kamu, dan mereka bisa segera menyelesaikan masalahnya, semoga kita diberi yang terbaik. Kalo boleh minta didoakan lagi, doakan aku semoga bisa cepat kembali dengan tulisan yang bermutu, tulisan yang kece, dan bukannya seperti tulisan yang... begitulah. Amin.
Friday, August 17, 2012
Your Call
Waiting for your call, I'm sick, call, I'm angry
Call, I'm desperate for your voice
Listening to the song we used to sing
in the car, do you remember?
Butterfly, Early Summer
It's playing on repeat, Just like when we would meet
like when we would meet
Cause I was born to tell you I love you
And I am torn to do what I have to, to make you mine
Stay with me tonight
Thanks Billie, atas lagunya.
Romantis badai kalo kata anak jaman sekarang mah. Bukan romantis perkaranya, namun lirik yang .....erh really fit. *hmm*
Sebelumnya, maaf di posting ini bahasa yang aku gunakan mungkin sangat, sangat santai. Ya, nggak tahu juga posting sebelum-sebelumnya bahasanya model gimana, tapi ini lebih nggak bermutu, menurutku. Dengan kenyataan banyak garis berliku berwarna merah--kau tahu kan, maksudnya apa?--di bawah kebanyakan kata yang aku tuangkan di sini.
Jadi ....mohon maaf sebelumnya.
(12:01 AM)
Oh, itu. Itu waktu pertama kali baca 'tulisan' milik Billie, belum lama aku kenal, yang menyarankanku mendengarkan lagu itu. Your Call, judulnya. Pelantunnya? John Vesely, kalau saya nggak salah ingat. Walaupun aku sering menyebutkan "Uh-oh. Ingatanku seperti gajah," bukan berarti aku juga tak bisa lupa, segalanya.
Terkadang menyakitkan saat kamu adalah satu-satunya orang yang berusaha, atau bahkan tanpa usaha sedikitpun untuk mengingat segala hal, tentangnya, tentang kalian.
Kembali ke 'Bang John', Si Abang ini menamakan dirinya sebagai Secondhand Serenade, nggak jauh beda dengan soloist Adam Young, Sang 'Owl City'.
Kata-katanya galau, ya memang, siapa bilang tidak?
Menggambarkan perasaan seseorang terhadap orang yang dikasihinya *you don't say*, telah kandas.
K-A-N-D-A-S. Haha.
Menggambarkan perasaan seseorang terhadap orang yang dikasihinya *you don't say*, telah kandas.
K-A-N-D-A-S. Haha.
By the way, sudah sekitar tujuhbelas menit semenjak aku menguatkan niatku untuk menulis. Menulis itu candu. Sekali lagi, menulis itu candu, aku sudah pernah menuliskannya di salah satu masterpiece--terserah sajalah--ku, dan sengaja tidak kupublikasikan. Merasa sangat jauh dari sempurna.
Apasih intinya tulisan ini?
Kau tak akan pernah menulis jika hanya itu yang ada di kepalamu saat kau menulis. "Tulislah meski sedikit!" kata seseorang.
Jika kau benar ingin tahu, tidak ada intinya tulisan ini. Pernahkah kau hanya memikirkan seseorang, atau paling tidak sesuatu, saat kau sedang menulis? Menulis yang melibatkan emosi dan perasaanmu, I mean.
So here I am. Persis seperti apa yang baru saja kutanyakan padamu. Memikirkan seseorang, dan aku tidak yakin dia memikirkanku juga. Sangsi. Tunggu, bukan Billie. Sesosok yang lain, di sana.
So here I am. Persis seperti apa yang baru saja kutanyakan padamu. Memikirkan seseorang, dan aku tidak yakin dia memikirkanku juga. Sangsi. Tunggu, bukan Billie. Sesosok yang lain, di sana.
"And I'm tired of being all alone, and this solitary moment makes me want to come back home."
Subscribe to:
Posts (Atom)