Sunday, July 17, 2016

7/17 11.10 PM

Mohon ampun-lah!
Karena yang kau lakukan kini bukanlah yang kau anggap maksimal, namun menyiakan kesempatan kedua yang ada.
Yang tak dimiliki setiap orang. Yang tak setiap orang mampu mendapatkannya.
Berdoa-lah!
Agar kamu diampuni.
Terlebih, agar kamu dimudahkan dalam langkah. Agar diberkahi, agar diberi hadiah terbaik atas usahamu yang 'terbaik'.
Amin.

Friday, July 1, 2016

Siapku, Tunggu.

Lembar yang baru, di hadapanku.

Aku siap untuk menuliskan jutaan alfabet, ribuan rekata, ratusan alinea baru. Namun setelah kucoba, tak semudah itu.
Tanganku sedikit sakit, kaku.
Tanganku tak lagi sama seperti dulu, waktu kamu siap membantu.

Setidaknya sakitku tak selamanya dan akan sembuh.

Ternyata meski kau siap, mungkin hanya perasaanmu.
Nyatanya kau masih butuh ditopang, kau butuh bahu.

Tunggu hingga sembuh. Tunggu.

Thursday, June 23, 2016

Kamu, Malam Ini

Teruntuk kamu, yang tak tenang malam ini.

Teruntuk dirimu, yang kini tengah berpesan pada dirimu sendiri. Malam ini.

Bacalah surat yang kau buat untuk dirimu. Malam ini. Bacalah di tiap-tiap malam kau merasakan hal yang sama. Saat jantungmu benar tak bisa kau kendalikan.
Saat kau tak yakin akan dirimu. Saat kau tak percaya pada kerja kerasmu.
Mungkin tak sebegitu keras, namun sekeras kau bisa.

Meski tak sekeras itu.

Teruntuk dirimu malam ini.

Kamu memang tak punya daya. Tak sanggup berupaya, Jika tanpa-Nya.
Maka bersyukurlah, karena setidaknya kamu telah mampu melakukannya, sesuatu, yaitu upaya.
Kamu telah melewatkan beberapa malam, meski tak sebanyak itu, telah melewatkan waktu, meski hanya segitu. Untuk? Untuk berjuang.

Bersyukurlah, karena setidaknya kau berjuang.
Berbahagialah, karena kau tak hanya berjuang untuk dirimu.
Kau berjuang untuk Rabb-Mu.
Kau berjuang untuk mereka yang suatu saat akan diberi cobaan, atau teguran oleh Tuhan-Mu.
Dan kau? Kau membantu tugas-Nya.

Berjuang.
Untuk kedua orang tercinta. Yang tak memilihmu, namun memberikan segalanya untukmu. Segalanya, yang kau minta bahkan tidak.
Balasannya adalah pahala.
Yang tak hanya untukmu, untuk kedua orang tuamu.

Maka sekali lagi, kamu.
Benar.
Kamu.
Sekali lagi kuperingatkan bahwa ini bukanlah apa-apa. Bukan apa-apa jika dibanding penderitaan mereka calon makhluk-makhluk yang akan kau ringankan bebannya, atas izin Allah.
Maka tetaplah berjuang.

Kau benar merasa tak sanggup?
Kamu kurang berdoa, Nak. Memang kamu punya apa? Kamu bisa apa jika tak mengharap dari Yang Maha Memiliki?
Serahkan segalanya, karena kamu telah melakukan jatahmu, dari-Nya.

Cukup di sini, ya, kamu.
Masih ada sisa waktu untukku berjuang, kan kugunakan, untukmu.

Teruntuk kamu,
berpenganglah, berjuanglah, dan ingat..... semampumu....

Hujan Barusan

Magisnya hujan.

Dia tak langsung menyentuhku
namun dinginnya terasa nyata

Dia tak langsung jatuh padaku
namun perih datang tetiba

Dia tak langsung membasahiku
namun sejuknya terasa di dada

Thursday, June 16, 2016

6/16 4.32 PM

Menulislah.

Namun bukankah seharusnya kau harus membaca sebelum menulis?
Maka,
bacalah.

Lagi.
Seperti itulah seharusnya,
mendengarkan sebelum berbicara.

Sebelum kau tulis rekata dari setiap gurat senyum mata
milikku itu, cobalah baca. Bacalah mataku. Engkau-kah alasanku?