Wednesday, May 22, 2019

Langkah.

Kursi-kursi merah yang kupikir sebelumnya takkan meninggalkan kesan, kini jadi ujud lain yang kuingat di ruangan itu selain aku dan kamu.

Aku ingat beberapa langkah dari ujung serong kanan yang kau ambil untuk mencapaiku; langkah-langkah lebar milikmu yang tak kusangka mengarahku.
Langkah yang kau ambil 'tuk menanyakan sesuatu yang akhirnya merubah ceritaku, sama sekali.

Kamu,
yang namanya asing sebelumnya, meski kau pejabat satu badan organisasi ternama.
Pernah bercengkrama tanpa tahu nama. Yang tanpa orang lain, kita tak mungkin bersama.

Terima kasih karena telah mengambil langkah itu.

Sedikit kusesali, tapi tak mengapa, jika tidak aku tak akan pernah mengerti orang-orang yang bahagia meski terjatuh.
Paling tidak, hatinya tak lagi membatu.

Terima kasih Tuhan, jika tidak, hatinya tak mungkin tergerak.

Friday, April 12, 2019

2019

Tahun ini aku didewasakan, masyaa Allaah.

Tahun ini belum lama berjalan tapi banyak sekali yang menjadi pembelajaran. Untukku, untuk kami.
Bukan hanya aku yang didewasakan, kami, keluarga kami.

Qadarallah, semua karena kehendak-Nya, orang tua kami mendapat musibah ...atau cobaan? Atau ujian? Semoga bukan azab.
Kami yang kurang amal ibadahnya ini, kami yang masih kurang dekat dengan Allah ini, didekatkan pada-Nya.
Kami jadi lebih berbakti pada orang tua kami; aku ke orang tuaku, orang tuaku ke orang tua mereka, aku ke orang tua mereka.

Subhanallah.

Tahun ini baru saja mulai tapi begitu banyak nikmat yang kami dapat. Aku bisa menyelesaikan pendidikan -meski belum sepenuhnya- dengan alhamdulillah dimudahkan dan dilancarkan atas kuasa Allah. Ibu, seorang dosen, empat penelitiannya alhamdulillah lolos dan terpilih mendapat dana hibah. Keluarga kami, alhamdulillah masih Allah dekatkan dan insya Allah, Allah berkah dan rahmati dengan begitu banyak nikmat

...dan pembelajaran.

==============================

Bulan ini aku dan adikku yang paling kecil diuji, secara akademik--tentunya nonakademik mengikuti. Kami diuji bagaimana kami bisa memanfaatkan waktu, diuji termasuk bagaimana mengatur emosi dan nafsu.

Kami berusaha, cukup kuat, semampu kami. Atas izin Allah.

Atas izin Allah, semua milik Allah.

Waktu ini milik Allah. Ilmu ini milik Allah. Semua milik Allah.

Iya, semua milik Allah.

Hingga jika saatnya tiba, milik Allah ini harus diambil, milik Allah ini harus dikembalikan--entah seketika, sekaligus, atau sedikit demi sedikit. Terserah Allah.
Semua milik Allah.

Kita milik Allah. Setiap kita milik Allah.
Maka pergunakanlah dengan baik. Begitu kataku tiap waktu. Sayangnya, sebagai manusia yang lalai, aku lupa, atau sengaja melupakan.

Aku tak sadar waktu. Aku tak memanfaatkan apa yang Allah beri ...bukan beri, titipkan, kepadaku. Nikmat ini kusalah gunakan. Sampai akhirnya aku diperingatkan.
Allah ambil kembali.

Subhanallah.

Terima kasih, ya Allah. Begitu indahnya.
Sedikit, agar aku ingat, agar aku awas.

Tapi sungguh, biarkan aku berjalan sedikit lebih jauh, dengan Engkau tuntun.
Agar aku tak begitu kecewakan makhluk-Mu yang lain, yang tanpa pamrih kecuali karena Engkau, berjuang dan berkorban di jalan-Mu membesarkanku, merawatku. Kabulkan doa-doanya, Yaa Allah, permintaannya, cita-citanya.

Biarkan aku sedikit lagi berjalan,
sedikit lagi belajar.
Dan sekali lagi, terima kasih, Yaa Tuhan,
atas segala pembelajaran.

Wednesday, August 15, 2018

Teruntukmu, Kawanku.

Andai aku tahu lebih dulu,
aku paham lebih awal,
dan aku mengerti lebih dini,
tak akan kubiarkan kau masuk sedalam ini
tak akan kusediakan ruang di hati.


------------------------------


Tak butuh waktu lama bagimu, untukmu. Hanya dua atau tiga hari, bukan pekan, bukan tahunan. Berawal dari perkenalan dangkal tak sampai pangkal, sering hingga kita beriring. Dua atau tiga hari itu, tak lagi sama, karenamu buat hari jadi berseri.

Tak ada cerita terlewat.
Bersamamu hari berlalu, jika tanpamu, bibir ini enggan merapat pun mata ini enggan menutup sebelum kisah sampai di sisimu.
Kita habiskan hari bersama meski tak lama.

Keluh kesah, seluruh kisah, bukankah terasa indah?
Aku yakin seyakin matahari yang mempercayakan dirinya ditelan awan--yang akan kembali ditampakkan, semua karena kita lalui bersama. Karena bahu ini, kanan dan kiri, bahu itu, untuk kita saling membahu masalah yang kita bawa saat mengabdi.

Kau, seorang asing yang jadikan diriku asing
bagiku, jika tanpamu.

Kau,
yang tak kuharap masuk sedalam ini
yang tak kuharap masuk ke ruang hati
yang akhirnya kauhiasi.
Terima kasih.
Paling tidak lima puluh hari yang ingin cepat kulewati, jadi kunikmati.

Teruntukmu,
sehatlah selalu, jangan tersedu.

Saturday, June 30, 2018

Aku Ingin Mencintai dan Melupakanmu dengan Sederhana.

aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti embun hinggap
di tepian daun dan tanah yang sabar menyambutnya jatuh

tapi aku ingin melupakanmu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti mata yang berkedip
menyambut pagi, dan daun jendela yang mengintip matahari

tapi aku ingin melupakanmu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti gerimis
pada jendela dan uap nafasmu menulis nama: 'kita'

tapi aku ingin melupakanmu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti waktu
yang tak pernah berhenti dan senyummu yang mengabadikannya

tapi aku ingin melupakanmu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti sebuah peluk
yang sebentar dan satu kecup yang perlahan saja

tapi aku ingin melupakanmu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana. seperti kata
'rindu' yang kuucap dan kau membalasnya dengan 'aku juga'

tapi aku ingin melupakanmu

aku ingin melupakanmu dengan sederhana. sesederhana airmata
yang mengalir. sesederhana genggam tangan yang terlepas

tapi aku ingin mencintaimu

Friday, June 29, 2018

Malam di Matamu.

Malam di matamu terlihat pucat; seperti tenang
bening danau yang terlalu lama menanti riak.

Malam di mataku telah menyerah; berlutut pada
kata-kata yang berjatuhan di dalam matamu


Bintang-bintang itu


Malam di matamu mulai membeku; seakan waktu
terjebak di balik langit yang berteriak.

Malam di matamu menjatuhkan gerimis
seperti rindu yang terurai lukanya

satu demi satu.