Lagi-lagi terusik, masalah eksistensi.
Memang aku siapa?
Iya, aku siapa?
Aku....
Hanya kawan yang pernah merawat lukamu, aku yang hampir tiap harinya mendengar celotehanmu, menampung airmata dan dukamu.
Hanya kawan yang berlari mencari, saat mendengar malangmu.
Hanya kawan di saat sepimu.
Hanya kawan yang bila benar kau sendiri, menemanimu.
Lalu sekarang, saat segala dalam genggaman, kau menganggap aku hanya bangku besi, diam dan bungkam. Diam menunggu karat.
Meski aku ada, kau pikir buat apa aku, bukan? Karena di sisi, telah ada yang kau inginkan.
Yah. Masalah eksistensi. Ku.
“It's beauty that captures your attention; personality which captures your heart.”
Wednesday, January 28, 2015
Eksistensi.
Friday, January 16, 2015
Biasa.
Semua memang masalah keterbiasaan.
Sapaan pagi yang membuatku terbiasa.
Tanya konyol, canda, apapun yang kau hadirkan di sisi, hingga hangat terasa.
Mudah bagiku tuk terbiasa akan hadirmu, namun sanggupkah, kau buat kuterbiasa pula dengan ketidakhadiranmu, tanpa hadirkan rasa siksa?
Thursday, January 15, 2015
Yeah.
Perhatianku teralihkan, pada satu makhluk ciptaan Tuhan; kami yang berbeda, satu sama lain.
Ini pertama kalinya dalam beberapa tahun, kala sepi masih enggan pergi dari ruang yang seharusnya tertempati, bukan oleh sepi, ia membuatku tertegun; termangun; dan entah kata apa apalagi yang berarti sama dan berakhiran -un yang lain, yang dapat ditambahkan.
Pertama kali.
Kau yang tak pernah bercakap panjang, kau yang kalimatnya tak pernah kudengar, kau yang tak pernah kusapa dalam perjalanan pulang, dan kau.... yang matanya tak pernah kupandang, berpendar.
Monday, December 29, 2014
Come Back, Macam Artis Korea.
Saturday, July 12, 2014
Hai, Saudaraku.
Teruntuk saudaraku sebangsa dan setanah air.
Hai, semua. Apa kabar?
Semoga Tuhan menjaga kita semua serta melindungi negara kita dari segala marabahaya.
Baru-baru ini saya dengar, saudara-saudara di beberapa daerah sana, tidak bisa dapat kehidupan yang layak, ya? Bayi-bayi tak dapat bertahan di dunia dalam hitungan minggu, hari, bahkan jam.
Ya Tuhan, terimalah mereka di tempat terbaik-Mu.
Pedih rasanya dengar kabar seperti itu. Dan sebagian dari diri saya menyalahkan sebagian yang lain, kenapa saya tak bantu mereka? Mereka masih bisa terjangkau, jika saja saya dengar kabar ini lebih dini.
Tapi wahai saudaraku, apa ini seutuhnya salah kami? Seandainya ada yang peduli beri kami kabar sebelumnya, mungkin, hanya mungkin, beberapa nyawa dapat tertolong, dan bersama kami bertahan di dunia yang sakit ini.
Sekali lagi, apa benar ini salah kami yang terlihat peduli atas penderitaan saudara kami di Gaza, di Suriah, di Burma? Sedangkan saudara kami di tanah air yang sama menderita? Salah kami?
Sekali lagi pula, seandainya saja anda, wahai saudaraku, yang mengkritik kepedulian kami atas Gaza lebih besar dibanding pada saudara-saudara yang ada di sana, menyuarakan apa yang kalian lihat kepada kami, mungkin, sekali lagi mungkin, nasib bayi-bayi itu akan berubah.
Dan.... lagi, apa ini benar seutuhnya salah kami? Apa pemerintah yang saudara percaya sudah bantu, seperti yang saudara harapkan?
-----
Jadi, bagaimana?
Masih salah-kah sepenuhnya kami untuk peduli atas saudara kami yang jauh di sana?